PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
Kandang dapat dibuat dalam bentuk ganda atau tunggal, tergantung dari jumlah
sapi yang dimiliki. Pada kandang tipe tunggal, penempatan sapi dilakukan pada
satu baris atau satu jajaran, sementara kandang yang bertipe ganda
penempatannya dilakukan pada dua jajaran yang saling berhadapan atau
saling bertolak belakang. Diantara kedua jajaran tersebut biasanya dibuat jalur
untuk jalan.
Pembuatan kandang untuk tujuan penggemukan (kereman) biasanya berbentuk
tunggal apabila kapasitas ternak yang dipelihara hanya sedikit. Namun, apabila
kegiatan penggemukan sapi ditujukan untuk komersial, ukuran kandang harus
lebih luas dan lebih besar sehingga dapat menampung jumlah sapi yang lebih
banyak.
Lantai kandang harus diusahakan tetap bersih guna mencegah timbulnya
berbagai penyakit. Lantai terbuat dari tanah padat atau semen, dan mudah
dibersihkan dari kotoran sapi. Lantai tanah dialasi dengan jerami kering sebagai
alas kandang yang hangat.
Seluruh bagian kandang dan peralatan yang pernah dipakai harus disuci
hamakan terlebih dahulu dengan desinfektan, seperti creolin, lysol, dan bahanbahan
lainnya.
Ukuran kandang yang dibuat untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5×2 m
atau 2,5×2 m, sedangkan untuk sapi betina dewasa adalah 1,8×2 m dan untuk
anak sapi cukup 1,5×1 m per ekor, dengan tinggi atas + 2-2,5 m dari tanah.
Temperatur di sekitar kandang 25-40 derajat C (rata-rata 33 derajat C) dan
kelembaban 75%. Lokasi pemeliharaan dapat dilakukan pada dataran rendah
(100-500 m) hingga dataran tinggi (> 500 m).
6.2. Pembibitan
Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh bibit sapi perah betina dewasa adalah:
(a) produksi susu tinggi, (b) umur 3,5-4,5 tahun dan sudah pernah beranak, (c)
berasal dari induk dan pejantan yang mempunyai keturunan produksi susu
tinggi, (d) bentuk tubuhnya seperti baji, (e) matanya bercahaya, punggung
lurus, bentuk kepala baik, jarak kaki depan atau kaki belakang cukup lebar
serta kaki kuat, (f) ambing cukup besar, pertautan pada tubuh cukup baik,
apabila diraba lunak, kulit halus, vena susu banyak, panjang dan berkelokkelok,
puting susu tidak lebih dari 4, terletak dalam segi empat yang simetris
dan tidak terlalu pendek, (g) tubuh sehat dan bukan sebagai pembawa penyakit
menular, dan (h) tiap tahun beranak.
Sementara calon induk yang baik antara lain: (a) berasal dari induk yang
menghasilkan air susu tinggi, (b) kepala dan leher sedikit panjang, pundak
tajam, badan cukup panjang, punggung dan pinggul rata, dada dalam dan
pinggul lebar, (c) jarak antara kedua kaki belakang dan kedua kaki depan cukup
lebar, (d) pertumbuhan ambing dan puting baik, (e) jumlah puting tidak lebih
dari 4 dan letaknya simetris, serta (f) sehat dan tidak cacat.
Pejantan yang baik harus memenuhi kriteria sebagai berikut: (a) umur sekitar 4-
5 tahun, (b) memiliki kesuburan tinggi, (c) daya menurunkan sifat produksi yang
tinggi kepada anak-anaknya, (d) berasal dari induk dan pejantan yang baik, (e)
besar badannya sesuai dengan umur, kuat, dan mempunyai sifat-sifat pejantan
yang baik, (f) kepala lebar, leher besar, pinggang lebar, punggung kuat, (g)
muka sedikit panjang, pundak sedikit tajam dan lebar, (h) paha rata dan cukup
terpisah, (i) dada lebar dan jarak antara tulang rusuknya cukup lebar, (j) badan
panjang, dada dalam, lingkar dada dan lingkar perut besar, serta (k) sehat,
bebas dari penyakit menular dan tidak menurunkan cacat pada keturunannya.
1) Pemilihan Bibit dan Calon Induk
Untuk mengejar produktivitas ternak yang tinggi, diperlukan perbaikan
lingkungan hidup dan peningkatan mutu genetik ternak yang bersangkutan.
Bibit yang baru datang harus dikarantina untuk penularan penyakit.
Kemudian bibit diberi minum air yang dicampur garam dapur, ditempatkan
dalam kandang yang bersih dan ditimbang serta dicatat penampilannya.
2) Perawatan Bibit dan Calon Induk
Seluruh sapi perah dara yang belum menunjukkan tanda-tanda birahi atau
belum bunting setelah suatu periode tertentu, harus disisihkan. Jika sapi
yang disisihkan tersebut telah menghasilkan susu, sapi diseleksi kembali
berdasarkan produksi susunya, kecenderungan terkena radang ambing dan
temperamennya.
3) Sistim Pemuliabiakan
Seringkali sapi perah dara dikawinkan dengan pejantan pedaging untuk
mengurangi risiko kesulitan lahir dan baru setelah menghasilkan anak satu
dikawinkan dengan pejantan sapi perah pilihan. Bibit harus diberi
kesempatan untuk bergerak aktif paling tidak 2 jam setiap hari.
Pemeliharaan
1) Sanitasi dan Tindakan Preventif
Pada pemeliharaan secara intensif sapi-sapi dikandangkan sehingga
peternak mudah mengawasinya, sementara pemeliharaan secara ekstensif
pengawasannya sulit dilakukan karena sapi-sapi yang dipelihara dibiarkan
hidup bebas. Sapi perah yang dipelihara dalam naungan (ruangan) memiliki
konsepsi produksi yang lebih tinggi (19%) dan produksi susunya 11% lebih
banyak daripada tanpa naungan.
Bibit yang sakit segera diobati karena dan bibit yang menjelang beranak
dikering kandangkan selama 1-2 bulan.
2) Perawatan Ternak
Ternak dimandikan 2 hari sekali. Seluruh sapi induk dimandikan setiap hari
setelah kandang dibersihkan dan sebelum pemerahan susu. Kandang harus
dibersihkan setiap hari, kotoran kandang ditempatkan pada penampungan
khusus sehingga dapat diolah menjadi pupuk. Setelah kandang dibersihkan,
sebaiknya lantainya diberi tilam sebagai alas lantai yang umumnya terbuat
dari jerami atau sisa-sisa pakan hijauan (seminggu sekali tilam tersebut
harus dibongkar).
Penimbangan dilakukan sejak sapi pedet hingga usia dewasa. Sapi pedet
ditimbang seminggu sekali sementara sapi dewasa ditimbang setiap bulan
atau 3 bulan sekali. Sapi yang baru disapih ditimbang sebulan sekali. Sapi
dewasa dapat ditimbang dengan melakukan taksiran pengukuran
berdasarkan lingkar dan lebar dada, panjang badan dan tinggi pundak.
3) Pemberian Pakan
Pemberian pakan pada sapi dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu:
a) sistem penggembalaan (pasture fattening)
b) kereman (dry lot fattening)
c) kombinasi cara pertama dan kedua.
Pakan yang diberikan berupa hijauan dan konsentrat. Hijauan yang berupa
jerami padi, pucuk daun tebu, lamtoro, alfalfa, rumput gajah, rumput
benggala atau rumput raja. Hijauan diberikan siang hari setelah pemerahan
sebanyak 30-50 kg/ekor/hari. Pakan berupa rumput bagi sapi dewasa
umumnya diberikan sebanyak 10% dari bobot badan (BB) dan pakan
tambahan sebanyak 1-2% dari BB.
Sapi yang sedang menyusui (laktasi) memerlukan makanan tambahan
sebesar 25% hijauan dan konsentrat dalam ransumnya. Hijauan yang berupa
rumput segar sebaiknya ditambah dengan jenis kacang-kacangan (legum).
Sumber karbohidrat berupa dedak halus atau bekatul, ampas tahu, gaplek,
dan bungkil kelapa serta mineral (sebagai penguat) yang berupa garam
dapur, kapur, dll. Pemberian pakan konsentrat sebaiknya diberikan pada
pagi hari dan sore hari sebelum sapi diperah sebanyak 1-2 kg/ekor/hari.
Selain makanan, sapi harus diberi air minum sebanyak 10% dari berat badan
per hari.
Pemeliharaan utama adalah pemberian pakan yang cukup dan berkualitas,
serta menjaga kebersihan kandang dan kesehatan ternak yang dipelihara.
Pemberian pakan secara kereman dikombinasikan dengan penggembalaan
Di awal musim kemarau, setiap hari sapi digembalakan. Di musim hujan sapi
dikandangkan dan pakan diberikan menurut jatah. Penggembalaan bertujuan
pula untuk memberi kesempatan bergerak pada sapi guna memperkuat
kakinya.
4) Pemeliharaan Kandang
Kotoran ditimbun di tempat lain agar mengalami proses fermentasi (+1-2
minggu) dan berubah menjadi pupuk kandang yang sudah matang dan baik.
Kandang sapi tidak boleh tertutup rapat (agak terbuka) agar sirkulasi udara
didalamnya berjalan lancar.
Air minum yang bersih harus tersedia setiap saat. Tempat pakan dan minum
sebaiknya dibuat di luar kandang tetapi masih di bawah atap. Tempat pakan
dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak atau
tercampur dengan kotoran. Sementara tempat air minum sebaiknya dibuat
permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi daripada permukaan
lantai. Sediakan pula peralatan untuk memandikan sapi.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: